Dari Ruang Kelas Situs Sejarah: Mahasiswa SPI UINKHAS Jember Belajar Menjaga Warisan Bangsa di Candi Badut

Melalui kunjungan ke Candi Badut, mahasiswa SPI tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik tentang arkeologi, tetapi juga membawa pulang pesan penting bahwa sejarah harus dipelajari, dihargai, dan dilestarikan. Sebab, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, warisan budaya merupakan jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar peradaban yang membentuk identitas bangsa Indonesia.

Dari Ruang Kelas Situs Sejarah: Mahasiswa SPI UINKHAS Jember Belajar Menjaga Warisan Bangsa di Candi Badut
Foto Para Mahasiswa SPI UINKHAS Jember Kuliah Lapangan

Malang, 2026 – Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan situs-situs sejarah menjadi pengingat penting akan perjalanan panjang peradaban bangsa. Kesadaran inilah yang coba ditanamkan kepada masyarakat, termasuk mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) UINKHAS Jember dengan melalui kegiatan Praktikum Kuliah Lapangan mata kuliah Arkeologi di Candi Badut, salah satu candi tertua di Jawa Timur.

Kunjungan lapangan tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran akademik, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian cagar budaya yang kini menghadapi berbagai tantangan. Di lokasi situs, mahasiswa diajak untuk mengamati secara langsung struktur bangunan candi, relief, serta berbagai unsur arkeologis yang menjadi saksi perkembangan peradaban masa lampau.

Sejak memasuki kawasan Candi Badut, mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Mereka melakukan observasi lapangan, mendokumentasikan bagian-bagian bangunan, mencatat karakteristik arsitektur, hingga mendiskusikan nilai historis yang terkandung dalam situs tersebut. Aktivitas ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas karena mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan sumber sejarah yang nyata.

Melalui pengamatan lapangan, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa cagar budaya bukan sekadar peninggalan kuno yang berdiri diam di masa kini. Di balik setiap batu yang tersusun dan setiap ornamen yang terpahat, tersimpan informasi berharga mengenai kehidupan sosial, budaya, politik, dan keagamaan masyarakat pada masa lalu.

“Mahasiswa perlu menyadari bahwa situs-situs seperti Candi Badut merupakan sumber sejarah yang tidak dapat diperbarui. Jika mengalami kerusakan atau hilang, maka sebagian memori kolektif bangsa juga akan hilang. Karena itu, pelestarian cagar budaya menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Mawardi Purbo Sanjoyo, dosen pendamping mereka.

Kesadaran tersebut menjadi semakin relevan mengingat berbagai tantangan yang dihadapi situs-situs bersejarah saat ini. Faktor alam seperti cuaca dan erosi, pertumbuhan kawasan perkotaan, vandalisme, hingga rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi ancaman bagi keberlangsungan banyak cagar budaya di Indonesia. Tidak sedikit situs sejarah yang mengalami kerusakan akibat ulah manusia maupun kurangnya perhatian terhadap upaya konservasi.

Dalam konteks tersebut, generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen pelestarian budaya. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembelajar sejarah, tetapi juga sebagai penyebar informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya. Melalui pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dan praktikum lapangan, mereka diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya pelestarian situs-situs bersejarah di masa depan.

Bagi para mahasiswa, pengalaman mengunjungi Candi Badut memberikan perspektif baru tentang makna sejarah. Mereka tidak hanya mempelajari teori mengenai cagar budaya, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana peninggalan masa lalu tetap bertahan dan membutuhkan perhatian agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan Praktikum Kuliah Lapangan ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah dapat menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran kebudayaan sekaligus rasa tanggung jawab terhadap warisan bangsa. Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa diajak memahami bahwa menjaga cagar budaya bukan hanya tugas pemerintah atau para ahli, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat.

Melalui kunjungan ke Candi Badut, mahasiswa SPI tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik tentang arkeologi, tetapi juga membawa pulang pesan penting bahwa sejarah harus dipelajari, dihargai, dan dilestarikan. Sebab, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, warisan budaya merupakan jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar peradaban yang membentuk identitas bangsa Indonesia.

Files