PANEN DI TENGAH KOTA, MENJAGA HARAPAN DARI SEBIDANG LAHAN
Oleh Ayah Didi Suprijadi
Pembina KTH Rumah Kaum Jayakarta
Pagi di penghujung pekan itu terasa sedikit berbeda di lahan urban farming yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Rumah Kaum Jayakarta, Jumat (12/6/2026). Jika biasanya lahan tersebut ramai oleh aktivitas warga dan para petani kota yang sibuk merawat tanaman, pagi itu perhatian tertuju pada deretan tamu yang hadir untuk mengikuti panen bersama.
Di antara hamparan hijau tanaman sayuran, warna merah muda seragam para kader Jumantik tampak mencolok. Mereka hadir berdampingan dengan aparatur pemerintah dan para pegiat lingkungan yang sejak beberapa tahun terakhir ikut menghidupkan gerakan pertanian perkotaan di kawasan Jatinegara Kaum.

Hari itu, KTH Rumah Kaum Jayakarta menggelar panen bersama kangkung dan labu madu atau _butternut squash_, dua komoditas yang menjadi bagian dari program ketahanan pangan berbasis masyarakat yang terus dikembangkan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kelurahan Jatinegara Kaum beserta jajaran staf, unsur Satuan Pelaksana Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), perwakilan seksi kebudayaan, serta Wakil Camat Pulogadung. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa urusan pangan tidak lagi semata-mata menjadi urusan petani, melainkan juga bagian dari agenda pembangunan kota.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya Manajer CSR PT Antam UBPP Logam Mulia, Bagus, bersama jajaran perusahaan. Dukungan dunia usaha terhadap kegiatan urban farming dinilai menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan berbagai program pemberdayaan masyarakat terus berjalan dan berkembang.
Bagi KTH Rumah Kaum Jayakarta, panen bukanlah sekadar memetik hasil tanaman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran panjang tentang bagaimana masyarakat perkotaan dapat membangun kemandirian pangan dari ruang-ruang yang sebelumnya dianggap tidak produktif.
Di tengah dominasi beton dan bangunan, lahan urban farming menjadi pengingat bahwa kota masih memiliki ruang untuk bertumbuh bersama alam.
Perhatian para tamu pagi itu banyak tertuju pada labu madu yang bergelantungan di para-para tanaman. Bentuknya unik, menyerupai lonceng dengan kulit berwarna krem kekuningan. Ketika dibelah, daging buahnya menampilkan warna oranye cerah yang menggambarkan kandungan beta-karoten dan vitamin A yang tinggi.
Labu madu dikenal memiliki rasa manis alami dengan tekstur lembut menyerupai mentega. Di berbagai negara, buah ini banyak diolah menjadi sup, _puree_ untuk makanan pendamping ASI (MPASI), hingga beragam hidangan penutup. Selain kaya serat, labu madu juga mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan mata dan sistem pencernaan.
Tanaman ini relatif cocok dibudidayakan di wilayah tropis seperti Indonesia. Dengan perawatan yang tepat, terutama penggunaan para-para agar buah tidak bersentuhan langsung dengan tanah, labu madu dapat dipanen pada usia sekitar 85 hingga 90 hari setelah tanam.
Menariknya, hasil panen tidak hanya dipamerkan. Para tamu yang hadir juga berkesempatan mencicipi olahan labu madu yang telah disiapkan oleh pengelola. Sajian sederhana itu menjadi bukti bahwa hasil pertanian perkotaan bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan sehat bagi keluarga.
Di balik kegiatan panen tersebut tersimpan pesan yang lebih besar. Ketika isu perubahan iklim, krisis pangan, dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah semakin sering dibicarakan, gerakan urban farming menawarkan jawaban yang sederhana namun nyata: memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menghasilkan pangan sendiri.
Apa yang dilakukan KTH Rumah Kaum Jayakarta menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Ia bisa tumbuh dari sebidang tanah di sudut kota, dirawat oleh tangan-tangan warga yang percaya bahwa masa depan yang lebih berkelanjutan dapat dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Panen kangkung dan labu madu pada Jumat pagi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, nilai yang dipetik jauh melampaui hasil pertanian yang dibawa pulang. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, kegiatan tersebut menjadi penanda bahwa harapan tentang kota yang hijau, sehat, dan mandiri pangan masih terus tumbuh—satu benih, satu tanaman, dan satu panen pada setiap waktunya.

Agus