DOSEN PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI GELAR IHT BAHAS KURIKULUM OBE DAN PENGUATAN MUTU PEMBELAJARAN
Jakarta, Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), melaksanakan kegiatan In House Training (IHT) Dosen pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan ini difokuskan pada pembahasan dan penguatan implementasi Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran dan pengembangan kompetensi dosen.
IHT diikuti oleh para dosen Pendidikan Sejarah Universitas Indraprasta PGRI. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk menyamakan pemahaman mengenai konsep OBE, penyusunan capaian pembelajaran, keterkaitan antara capaian pembelajaran lulusan dengan mata kuliah, serta pengembangan proses pembelajaran dan asesmen yang berorientasi pada capaian mahasiswa.
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Indraprasta PGRI, Dr. Arief Hidayat, menegaskan bahwa pembahasan Kurikulum OBE sangat penting agar proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada capaian kompetensi yang benar-benar dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran.
“Melalui IHT ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh dosen memiliki pemahaman yang sama mengenai Kurikulum OBE. Pembelajaran tidak lagi cukup hanya melihat materi apa yang sudah disampaikan oleh dosen, tetapi harus dapat menunjukkan capaian apa yang diperoleh mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran,” ujar Dr. Arief Hidayat.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan OBE menuntut dosen untuk merancang pembelajaran secara lebih sistematis, mulai dari penentuan capaian pembelajaran, strategi pembelajaran, bentuk penugasan, hingga instrumen asesmen.
“Kurikulum OBE membutuhkan keterhubungan yang jelas antara capaian pembelajaran lulusan, capaian pembelajaran mata kuliah, metode pembelajaran, dan asesmen. Karena itu, IHT ini juga menjadi kesempatan bagi dosen untuk melakukan evaluasi dan penyelarasan terhadap perangkat pembelajaran agar benar-benar mengarah pada kompetensi lulusan yang diharapkan,” tambahnya.
Menurut Dr. Arief Hidayat, implementasi OBE juga penting dalam Pendidikan Sejarah karena mahasiswa tidak hanya dituntut memahami fakta dan peristiwa sejarah, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, komunikatif, serta mampu mengembangkan pembelajaran sejarah yang relevan dengan perkembangan masyarakat.
“Pembelajaran sejarah tidak boleh berhenti pada hafalan tokoh, tahun, dan peristiwa. Melalui pendekatan OBE, capaian mahasiswa harus lebih terukur, misalnya kemampuan melakukan analisis historis, menggunakan sumber sejarah secara kritis, menyusun argumentasi, serta merancang pembelajaran sejarah yang inovatif,” jelasnya.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial (FIPPS) Universitas Indraprasta PGRI, Dr. H. Taufik. Ia menyampaikan bahwa pengembangan kurikulum harus terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, perkembangan keilmuan, dan tuntutan dunia pendidikan.
“Kurikulum merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga kualitas pendidikan. Implementasi OBE mendorong kita untuk lebih fokus pada hasil pembelajaran dan kompetensi lulusan. Karena itu, peningkatan kapasitas dosen melalui IHT seperti ini sangat penting agar kurikulum tidak hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten dalam proses perkuliahan,” ungkap Dr. H. Taufik.
Ia juga menekankan bahwa penerapan Kurikulum OBE membutuhkan komitmen bersama seluruh unsur program studi.
“OBE tidak dapat berjalan apabila hanya dipahami oleh sebagian dosen. Dibutuhkan kesamaan persepsi, kolaborasi, dan evaluasi secara berkelanjutan. Seluruh dosen harus memahami arah capaian lulusan dan bagaimana setiap mata kuliah memberikan kontribusi terhadap pencapaian kompetensi tersebut,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaan IHT, pembahasan diarahkan pada beberapa aspek penting, antara lain penguatan pemahaman mengenai konsep Outcome-Based Education, peninjauan capaian pembelajaran lulusan, penyelarasan capaian pembelajaran mata kuliah, penyusunan Rencana Pembelajaran Semester, pengembangan metode pembelajaran, serta penyusunan asesmen yang mampu mengukur ketercapaian hasil belajar mahasiswa.
Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi para dosen untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai berbagai tantangan dalam penerapan Kurikulum OBE. Melalui diskusi tersebut, diharapkan diperoleh kesamaan langkah dalam merancang pembelajaran yang lebih terarah, terukur, dan relevan dengan profil lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah.
Selain membahas Kurikulum OBE, IHT juga diarahkan untuk memperkuat budaya akademik dan kolaborasi antardosen. Perubahan dalam dunia pendidikan, perkembangan teknologi, serta karakteristik mahasiswa yang semakin dinamis menuntut dosen untuk terus melakukan inovasi dalam pembelajaran.
Dr. Arief Hidayat berharap hasil kegiatan IHT tidak berhenti pada kegiatan diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penyempurnaan perangkat pembelajaran dan implementasi di setiap mata kuliah.
“Setelah IHT ini, kami berharap ada tindak lanjut yang konkret. Setiap dosen dapat melakukan penyelarasan RPS, metode pembelajaran, penugasan, dan asesmen dengan prinsip OBE. Dengan demikian, mahasiswa benar-benar dapat merasakan proses pembelajaran yang lebih terarah dan capaian kompetensinya juga dapat diukur dengan lebih baik,” katanya.
Melalui penyelenggaraan IHT Dosen Pendidikan Sejarah Tahun 2026, Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Indraprasta PGRI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran melalui implementasi Kurikulum OBE, penguatan kompetensi dosen, serta penyelarasan proses pendidikan dengan capaian lulusan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun Program Studi Pendidikan Sejarah yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada mutu, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, profesional, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perkembangan dunia pendidikan dan kebutuhan masyarakat.

Agus