HAUL PANGERAN SAGERI: MENGENANG PEJUANG MUSLIM DI JATINEGARA KAUM

HAUL PANGERAN SAGERI: MENGENANG PEJUANG MUSLIM DI JATINEGARA KAUM

Oleh: Ayah Didi Suprijadi 

Area pemakaman Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, tidaklah begitu luas. Lahannya hanya sekitar 100 meter persegi. Namun, pada Selasa malam, 25 Agustus 2026, tempat itu dipadati peserta Haul Akbar Pangeran Sageri.

Malam itu, suasana pemakaman terasa berbeda. Usai salat Isya berjemaah, rombongan peserta haul berdatangan. Mereka berasal dari keluarga besar Pesantren As Shogiri, Tanah Baru, Bogor, serta kerabat dan anak keturunan Pangeran Jayakarta yang bermukim di Kelurahan Jatinegara.

Haul yang dilaksanakan setiap tahun itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal 1448 Hijriah. Tahun ini terasa semakin istimewa karena berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seolah bukan sebuah kebetulan. Haul Pangeran Sageri tahun ini berlangsung dalam suasana perayaan kemerdekaan. Sebab, Pangeran Sageri, yang juga dikenal sebagai Pangeran Sogiri, merupakan salah satu tokoh ulama sekaligus pejuang muslim yang ikut berjuang melawan penjajahan.

Berbagai literatur mencatat bahwa Pangeran Jayakarta, Pangeran Sanghiyang, dan Pangeran Sogiri merupakan tokoh-tokoh yang berjuang menentang kekuasaan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan negeri Nusantara.

Pangeran Sageri atau Pangeran Sogiri merupakan putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten, yang bernama Abul Fath Abdul Fattah. Ia berasal dari garis keturunan Kesultanan Banten. Berbeda dari jalan hidup sebagai administrator kerajaan atau putra mahkota, Pangeran Sageri memilih kehidupan sebagai seorang sufi dan santri.

Ketika kekuatan Banten menghadapi tekanan dan serangan VOC, Pangeran Sageri ikut dalam perjuangan melawan penjajah bersama keluarga besar Pangeran Jayakarta. Setelah pasukan Banten dipukul mundur oleh VOC, ia kemudian menyingkir dan bermukim di wilayah Jatinegara Kaum.

Jejak perjuangan itu kini masih dapat ditemui di kompleks makam kerabat Pangeran Jayakarta. Di tempat tersebut, Pangeran Sageri dimakamkan berdampingan dengan istrinya, Ratu Rupiah, serta sejumlah kerabat lainnya, antara lain Pangeran Soeria dan Pangeran Lahut.

Makam tersebut kini menjadi bagian dari situs cagar budaya yang diziarahi masyarakat. Bagi sebagian warga, tempat itu bukan sekadar kompleks pemakaman. Di sana tersimpan ingatan tentang tokoh-tokoh yang pernah berjuang melawan penjajahan sekaligus menyebarkan agama Islam di Batavia.

Karena itu, haul tidak semata-mata menjadi kegiatan mengenang seseorang yang telah wafat. Haul juga menjadi ruang untuk menyambung ingatan antargenerasi.

Di tengah hiruk-pikuk peringatan kemerdekaan ke-81, para peserta haul seakan diajak kembali menengok sejarah. Kemerdekaan yang hari ini dinikmati bangsa Indonesia bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ada perjuangan, pengorbanan, doa, dan keteguhan para pendahulu yang mewarnai perjalanan panjang bangsa.

Malam itu, di area pemakaman yang sederhana dan tidak terlalu luas, nama Pangeran Sageri kembali disebut. Doa-doa dipanjatkan, Maulid Nabi diperingati, dan sejarah kembali dikenang.

Barangkali, inilah makna penting sebuah haul: menjaga agar nama dan perjuangan orang-orang terdahulu tidak hilang ditelan zaman. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu merayakan kemerdekaannya, tetapi juga bangsa yang mau mengenang dan menghargai mereka yang pernah berjuang untuk meraihnya.