MEMBACA PERANG DIPONEGORO DARI SUDUT PANDANG TURKI UTSMANI DALAM SANG PANGERAN DAN JANISSARY TERAKHIR
Oleh: Hanif Aprian Rahmat
Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830) merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Banyak buku telah membahasnya dari berbagai sudut pandang. Namun, membaca kisah Perang Diponegoro melalui novel _Sang Pangeran dan Janissary Terakhir_ karya Salim A. Fillah memberikan pengalaman yang berbeda.
Novel ini menarik karena tidak hanya membawa pembaca pada suasana Perang Diponegoro di Jawa, tetapi juga menghubungkannya dengan sejarah Kesultanan Turki Utsmani dan pasukan Janissary. Perpaduan dua latar sejarah tersebut membuat cerita terasa luas dan memberikan gambaran mengenai hubungan dunia Islam dengan Nusantara.
Sebagai pembaca yang memiliki ketertarikan pada Sejarah dan Kebudayaan Islam, saya melihat novel ini cukup menarik untuk dibaca. Ceritanya tidak hanya berisi peperangan, tetapi juga menghadirkan persoalan politik, kehidupan masyarakat, budaya, agama, serta berbagai tokoh yang hidup pada masa tersebut.
Salah satu bagian yang menurut saya menarik adalah bagaimana novel ini mengangkat kisah Janissary dan pergolakan di Kesultanan Utsmani, kemudian menghubungkannya dengan perjuangan Pangeran Diponegoro di Jawa. Di sinilah novel terasa berbeda dari cerita Perang Diponegoro yang biasa kita temui.
Novel ini juga memperlihatkan berbagai simbol dan gagasan yang berkaitan dengan dunia Islam, seperti jihad, perang sabil, identitas perjuangan, serta gagasan tentang ratu adil. Hal tersebut kemudian dipertemukan dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat Jawa.
Bagi saya, bagian tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa perjuangan Diponegoro dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya sebagai konflik antara Jawa dan Belanda, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika dunia Islam dan masyarakat Nusantara pada abad ke-19.
Namun, sebagai pembaca sejarah, tentu kita perlu berhati-hati. _Sang Pangeran dan Janissary Terakhir_ adalah novel sejarah sehingga tidak semua peristiwa di dalamnya dapat langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Terutama mengenai keterlibatan langsung pasukan Turki Utsmani dalam Perang Diponegoro, bagian tersebut perlu dibandingkan kembali dengan sumber-sumber sejarah lainnya.
Justru di sinilah menurut saya letak menariknya novel ini. Novel tidak harus selalu diperlakukan sebagai buku sejarah. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sejarah dan mendorong pembaca mencari sumber lain untuk mengetahui mana yang merupakan fakta, interpretasi, dan unsur fiksi.
Saya juga tertarik dengan penggunaan berbagai rujukan sejarah dalam novel, termasuk sumber-sumber tradisional Jawa seperti _Babad Tanah Jawi_ dan _Babad Diponegoro_. Kehadiran berbagai tokoh ulama dan jaringan keilmuan Islam di Asia Tenggara juga membuat cerita terasa lebih luas. Tokoh seperti Syekh Dawud al-Fatani dan Syekh Abdus Samad al-Falimbani mengingatkan bahwa dunia Islam di Nusantara pada masa itu memiliki hubungan intelektual yang jauh melampaui batas wilayah.
Selain isinya, saya menikmati gaya bahasa Salim A. Fillah yang menurut saya cukup ringan dan ramah dibaca. Meskipun novelnya cukup tebal, alur dan bahasa yang digunakan membuat pembaca tetap dapat menikmatinya. Bagi saya, perpaduan antara sejarah, budaya, agama, dan cerita fiksi inilah yang menjadi salah satu kekuatan novel tersebut.
Setelah menyelesaikan novel ini, saya merasa bahwa _Sang Pangeran dan Janissary Terakhir_ bukan hanya memberikan cerita tentang peperangan. Novel ini juga memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Jawa, pergolakan politik, nilai-nilai Islam, serta kemungkinan hubungan antara Nusantara dan dunia Islam yang lebih luas.
Karena itu, menurut saya novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca, khususnya bagi mereka yang tertarik pada sejarah, Islam, dan kebudayaan Nusantara. Bagi mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, novel ini juga bisa menjadi bacaan ringan yang membuka banyak pertanyaan dan kemungkinan untuk dikaji lebih lanjut.
Pada akhirnya, membaca novel sejarah bukan hanya tentang mengetahui cerita masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana cerita tersebut membuat kita ingin kembali bertanya: apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana masyarakat pada masa itu memahaminya, dan bagaimana sejarah tersebut diceritakan kepada kita hari ini.

Agus