MINYAK JELANTAH DIBURU IBU-IBU, DISULAP JADI SABUN RAMAH LINGKUNGAN
Oleh Ayah Didi
(Pokja Proklim RW 03 Jatinegara Kaum)
JAKARTA — Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap limbah tak berguna, kini justru diburu oleh para ibu di Kelurahan Jatinegara Kaum dan Pisangan Timur. Di tangan mereka, sisa minyak goreng rumah tangga itu diolah kembali menjadi sabun cuci yang bermanfaat sekaligus ramah lingkungan.
Fenomena ini menjadi bagian dari upaya warga dalam mengurangi dampak pencemaran limbah rumah tangga. Minyak jelantah, atau yang kerap disingkat mijel, diketahui berpotensi menjadi polutan jika dibuang sembarangan ke tanah maupun saluran air. Namun, melalui pengolahan sederhana, limbah cair tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan, salah satunya sabun cuci.
Upaya ini tampak dalam kegiatan pelatihan pemanfaatan minyak jelantah yang digelar di KTH 2 RW 03 Jatinegara Kaum, Sabtu (25/4/2026). Pelatihan sehari itu menghadirkan Tya, warga RW 01 Jatinegara Kaum, sebagai narasumber sekaligus pelatih.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan kader Program Kampung Iklim (Proklim) bagi perwakilan RW se-Kelurahan Jatinegara Kaum dan Pisangan Timur. Peserta yang hadir didominasi ibu-ibu kader Proklim dari wilayah binaan RW 03, yang tengah didorong menuju kategori Proklim baik Pratama, Madya, Utama, maupun Lestari.
Ketua RW 03 Jatinegara Kaum, Suprapto, dalam arahannya menekankan pentingnya keterkaitan pelatihan ini dengan program Proklim yang sedang digalakkan pemerintah di tingkat RW. Menurut dia, sebagai wilayah yang telah menyandang predikat Proklim Utama, RW 03 memiliki tanggung jawab untuk berbagi pengalaman kepada RW-RW wilayah lain.
“Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi bagian dari edukasi lingkungan yang harus terus ditularkan,” ujar Suprapto.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan proses pembuatan sabun dari minyak jelantah melalui metode saponifikasi. Minyak yang telah dimurnikan, menggunakan arang aktif atau daun pandan, dicampur dengan larutan soda api (NaOH) dan air, kemudian diaduk hingga mengental sebelum dicetak.
Sabun yang dihasilkan dapat digunakan untuk mencuci piring, pakaian, hingga membersihkan noda membandel. Namun, produk tersebut harus melalui proses “curing” atau pendiaman selama dua hingga empat minggu agar kadar pH menjadi aman digunakan.
Selain praktik langsung, peserta juga dibekali pemahaman tentang pentingnya keselamatan kerja, seperti penggunaan masker, sarung tangan, dan kacamata pelindung. Hal ini penting mengingat proses pencampuran bahan kimia dapat menghasilkan uap yang menyengat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta bahkan mengusulkan agar pelatihan serupa dikembangkan lebih lanjut, termasuk pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif atau lilin.
Minyak jelantah sendiri tergolong limbah rumah tangga yang sulit terurai secara alami. Tanpa pengolahan yang tepat, limbah ini berpotensi mencemari lingkungan dan memperburuk dampak perubahan iklim.
Karena itu, edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dinilai menjadi kunci. Ke depan, warga di lingkungan Kelurahan Jatinegara Kaum diharapkan semakin sadar untuk mengelola limbah rumah tangga secara bijak, sekaligus menjadikannya sumber nilai tambah bagi kehidupan sehari-hari. (AK)

Agus